Sabtu, 06 Oktober 2012 - 0 komentar

Asuhan neonatus. masalah pd BBL diare & milliarisis


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
1.1 LATAR BELAKANG
Ruang lingkup Asuhan Neonatus, Bayi dan Anak Balita meliputi lima (5) aspek yaitu Asuhan pada Bayi Baru Lahir Normal, Bayi Baru Lahir Bermasalah, Bayi Baru Lahir dengan Kelainan Bawaan, Bayi Baru Lahir dengan Trauma, dan Neonatus Beresiko Tinggi.
Sebagai seorang bidan, kita harus terampil dalam memberikan asuhan pada bayi baru lahir baik yang normal maupun yang memiliki kelainan (masalah). Dalam makalah ini akan dibahas tentang beberapa masalah yang lazim terjadi pada bayi baru lahir diantaranya bayi baru lahir dengan masalah diare dan miliariasis/sudamina/liken beserta dengan penatalaksanaannya.
1.2 RUMUSAN MASALAH
4. Apakah yang dimaksud dengan miliariasis?
5. Apakah yang menyebabkan miliariasis tersebut?
6. Bagaimana penatalaksanaan miliariasis?
1.3 TUJUAN
Tujuan dari pembuata
n makalah ini adalah untuk mengetahui tentang diare dan miliariasis, mulai dari pengertian, penyebab, dan penatalaksanaannya. Selain itu, dengan pembuatan makalah ini diharapkan para mahasiswa DIII Kebidanan dapat mengerti dan mampu menangani masalah-masalah tersebut bila kelak terjun ke lapangan.
BAB II
ISI
1.      DIARE
a.      Pengertian
      Diare adalah buang air besar dengan frekuensi 3x atau lebih per hari, disertai perubahan tinja menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah yang terjadi pada bayi dan anak yang sebelumnya tampak sehat (A.H. Markum, 1999)

b.      Penyebab diare :
1. Bayi terkontaminasi feses ibu yang mengandung kuman patogen saat dilahirkan
2. Infeksi silang oleh petugas kesehatan dari bayi lain yang mengalami diare, hygiene        dan sanitasi yang buruk
3. Dot yang tidak disterilkan sebelum digunakan
4. Makanan yang tercemar mikroorganisme (basi, beracun, alergi)
5. Intoleransi lemak, disakarida dan protein hewani
6. Infeksi kuman E. Coli, Salmonella, Echovirus, Rotavirus dan Adenovirus
7. Sindroma malabsorbsi (karbohidrat, lemak, protein)
8. Penyakit infeksi (campak, ISPA, OMA)
9. Menurunnya daya tahan tubuh (malnutrisis, BBLR, immunosupresi, terapi antibiotik)
c.       Jenis diare :
1.    Diare akut, feses sering dan cair, tanpa darah, berakhir <7 hari, muntah, demam
2.    Disentri, terdapat darah dalam feses, sedikit-sedikit/sering, sakit perut, sakit pada saat BAB, anoreksia, kehilangan BB, kerusakan mukosa usus
3.    Diare persisten, berakhir selama 14 hari/lebih, dapat dimulai dari diare akut ataupun      disentri
d.      Tanda dan gejala
1.    Gejala sering dimulai dengan anak yang tampak malas minum, kurang sehat diikuti       muntah dan diare.
2.    Feses mula-mula berwarna kuning dan encer, kemudian berubah menjadi hijau, berlendir dan berair serta frekuensinya bertambah sering
3.    Cengeng, gelisah, lemah, mual, muntah, anoreksia
4.    Terdapat tanda dan gejala dehidrasi, turgor kulit jelek (elastisitas kulit menurun),           ubun-ubun dan mata cekung, membran mukosa kering.
5.  Pucat anus dan sekitarnya lecet
6.    Pengeluaran urin berkurang/tidak ada
7.    Pada malabsorbsi lemak biasanya feses berwarna pucat, banyak dan berbau busuk dan terdapat butiran lemak
8.    Pada intoleransi disakarida feses berbau asam, eksplosif dan berbusa
9.    Pada alergi susu sapi feses lunak, encer, berlendir, dan kadang-kadang berdarah
e.       Komplikasi
1.    Kehilangan cairan dan elektrolit yang berlebihan (dehidrasi, kejang dan demam)
2.    Syok hipovolemik yang dapat memicu kematian
3.    Penurunan berat badan dan malnutrisi
4.    Hipokalemi (rendahnya kadar kalium dalam darah)
5.    Hipokalsemi (rendahnya kadar kalsium dalam darah)
6.    Hipotermia (keadaan suhu badan yang ekstrim rendah)
7.    Asidosis (keadaan patologik akibat penimbunan asam atau kehilangan alkali dalam        tubuh)
f.       Tahapan dehidrasi menurut Ashwill dan Droske (1997)
1.       Dehidrasi ringan, BB menurun 3-5% dengan volume cairan yang hilang < 50    ml/kgBB
2.       Dehidrasi sedang, BB menurun 6-9% dengan volume cairan yang hilang 50-90%         ml/kgBB
3.       Dehidrasi berat, BB menurun lebih dari 10% dengan volume cairan yang hilang ≥100 ml/kgBB
g.      Penatalaksanaan
1.      Memberikan cairan dan mengatur keseimbangan elektrolit
2.      Terapi rehidrasi
3.      Kolaborasi untuk terapi pemberian antibiotik sesuai dengan kuman penyebabnya
4.      Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan bayi untuk mencegah penularan
5.      Memantau biakan feses pada bayi yang mendapat terapi antibiotik
6.      Tidak dianjurkan untuk memberikan anti diare dan obat-obatan pengental feses
2. MILIARIASIS/SUDAMINA/LIKEN TROPIKUS/BIANG KERINGAT
a. Pengertian
            Miliariasis adalah kelainan kulit yang ditandai dengan kemerahan, disertai dengan gelembung kecil berair yang timbul akibat keringat berlebihan disertai sumbatan saluran kelenjar keringat yaitu di dahi, leher, bagian yang tertutup pakaian (dada, punggung), tempat yang mengalami tekanan atau gesekan pakaian dan juga kepala.
b. Faktor penyebab
1.       Udara panas dan lembab dengan ventilasi udara yang kurang
  1. Pakaian yang terlalu ketat, bahan tidak menyerap keringat
  2. Aktivitas yang berlebihan
  3. Setelah menderita demam atau panas
  4. Penyumbatan dapat ditimbulkan oleh bakteri yang menimbulkan radang dan edema akibat perspirasi yang tidak dapat keluar dan di absorbsi oleh stratum korneum
Patofisiologi
Dengan diawali tersumbatnya pori-pori kelenjar keringat sehingga pengeluaran keringat tertahan. Tertahannya keringat ini ditandai dengan adanya vesikel miliar di muara kelenjar keringat, lalu disusul dengan timbulnya radang dan odem akibat perspirasi yang tidak dapat keluar yang kemudian diabsorbsi oleh stratum korneum.
c. Bentuk miliariasis
            Miliaria kristalina
1.       Kelainan kulit berupa gelembung kecil 1-2 mm berisi cairan jernih disertai kulit kemerahan
  1. Vesikel bergerombol tanpa tanda radang pada bagian pakaian yang tertutup pakaian
  2. Umumnya tidak menimbulkan keluhan dan sembuh dengan sisik halus
  3. Pada keadaan histopatologik terlihat gelembung intra/subkorneal
  4. Asuhan : pengobatan tidak diperlukan, menghindari udara panas yang berlebihan, ventilasi yang baik serta menggunakan pakaian yang menyerap keringat.
            Miliaria rubra
1.       Sering dialami pada anak yang tidak biasa tinggal didaerah panas
  1. Kelainan berupa papula/gelembung merah kecil dan dapat menyebar atau berkelompok dengan rasa sangat gatal dan pedih
  2. Staphylococcus juga diduga memiliki peranan
  3. Pada gambaran histopatologik gelembung terjadi pada stratum spinosum sehingga menyebabkan peradangan pada kulit dan perifer kulit di epidermis
  4. Asuhan : gunakan pakaian yang tipis dan menyerap keringat, menghindari udara panas yang berlebihan, ventilasi yang baik, dapat diberikan bedak salicyl 2% dibubuhi menthol 0,25-2%
            Miliaria profunda
1.       Timbul setelah miliaria rubra
  1. Papula putih, kecil, berukuran 1-3 mm
  2. Terdapat terutama di badan ataupun ekstremitas
  3. Karena letak retensi keringat lebih dalam maka secara klinik lebih banyak berupa papula daripada vesikel
  4. Tidak gatal, jarang ada keluhan, tidak ada dasar kemerahan, bentuk ini jarang ditemui
  5. Pada keadaan histopatologik tampak saluran kelenjar keringat yang pecah pada dermis bagian atas atau tanpa infiltrasi sel radang
  6. Asuhan : hindari panas dan lembab berlebihan, mengusahakan regulasi suhu yang baik, menggunakan pakaian yang tipis, pemberian losio calamin dengan atau tanpa menthol 0,25% dapat pula resorshin 3% dalam alkohol
d. Penatalaksanaan
1.       Perawatan kulit yang benar
  1. Biang keringat yang tidak kemerahan dan kering diberi bedak salycil atau bedak kocok setelah mandi
  2. Bila membasah, jangan berikan bedak, karena gumpalan yang terbentuk memperparah sumbatan kelenjar
  3. Bila sangat gatal, pedih, luka dan timbul bisul dapat diberikan antibiotik
  4. Menjaga kebersihan kuku dan tangan (kuku pendek dan bersih, sehingga tidak menggores kulit saat menggaruk.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Dari makalah di atas dapat disimpulkan bahwa beberapa masalah yang lazim terjadi pada bayi baru lahir diantaranya adalah masalah bisul/furunkel dan miliariasis/sudamina/liken tropikus/biang keringat. Kedua hal ini disebabkan oleh kuman dan bakteri. Maka dari itu sebagai seorang bidan, kita harus terampil dalam memberikan asuhan pada bayi baru lahir baik yang normal maupun yang memiliki kelainan (masalah) untuk menghindari terjadinya kedua masalah tersebut.
SARAN
Sebaiknya jangan memakaikan baju yang tidak bisa menyerap keringat pada bayi karena bayi mudah berkeringat, selalu memperhatikan tingkah laku bayi yang sedang bermain yang sering memasukkan benda-benda asing ke mulutnya yang dapat menyebabkan timbulnya masalah tersebut.




0 komentar:

Poskan Komentar